Truk Listrik Asal India Pesaing Tesla Cybertruck Ini Punya Tampang Aneh

Jakarta – Tresa Motors selaku produsen kendaraan listrik asal India telah menghadirkan truk listrik pertamanya; VO.1 yang terlihat unik dari segi tampilan, bahkan dinilai cukup aneh.

Truk ini mempunyai bentuk yang serba kotak dan ada semacam cekungan pada bagian fascia depan.

Seperti dilansir situs web Indian Autos Blog, truk yang hadir untuk pasar global tersebut dibuat dengan mengusung platform Axial Flux Motor inovatif, FLUX350.

truk listrik

Truk listrik India yang memiliki tampilan unik. (Foto: Indian Autos Blog)

Kehadiran truk ini dinilai dapat menunjukkan pandangan revolusioner Tresa Motors terhadap desain, hingga kemasan baterai yang aman untuk truk listrik sedang dan berat.

Ini merupakan bukti komitmen Tresa Motors terkait inovasi dan visinya untuk masa depan yang didorong oleh solusi transportasi berkelanjutan.

Selain itu, dengan kehadiran truk listrik tersebut, Tresa Motors dapat merevolusi lanskap kendaraan listrik di India dan sekitarnya.

Tresa Motors akan menjadi tuan rumah peluncuran truk listrik model V pada kuartal kedua 2023.

Berdasarkan penelusuran Carmudi, truk listrik VO.1 bersaing dengan Tesla Cybertruck dan Ford F-150 Lightning yang hadir di Amerika Serikat.

Sebagai informasi, India saat ini memiliki sekitar 2,8 juta truk yang memberikan kontribusi 60 persen emisi.

Hal ini yang membuat kebutuhan truk menengah dan berat nol emisi perlu dipenuhi di negara tersebut.

Truk listrik di India

Truk listrik VO.1 punya tenaga hingga 350 kW. (Foto: financial express)

Tresa Motors pun ingin mentransisikan 2,8 juta truk tersebut ke listrik satu per satu.

Truk VO.1 mempunyai tenaga sebesar 350 kW dan didukung Axial Flux Motor di mana memiliki ukuran ringkas dan bobot ringan.

Truk listrik sedang dan berat besutan Tresa Motors pun jadi lompatan besar mereka ke depannya dalam industri kendaraan komersial yang diklaim menawarkan daya, efisiensi, serta manfaat bagi lingkungan.

Penulis: Nadya Andari
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 1,201

Toyota Bakal Jual Rumion Kembaran Suzuki Ertiga di India

Jakarta — Kerja sama antara Toyota dan Suzuki di India terus berlanjut dengan adanya kabar peluncuran Rumion.

Rumion itu sendiri dikabarkan merupakan produk rebadge dari Suzuki Ertiga.

Toyota Bakal Jual Rumion Kembaran Suzuki Ertiga di India

Kerja sama antara Toyota dan Suzuki di India terus berlanjut dengan adanya kabar peluncuran Rumion. Rumion itu sendiri dikabarkan merupakan produk rebadge dari Suzuki Ertiga.

Dirangkum dari Autocar India, Selasa (11/7/2023), dikatakan bahwa sebelumnya Rumion sudah dijual di Afrika Selatan pada 2021 dan memiliki tampilan mirip dengan Ertiga yang ada di India.

Perbedaannya terdapat pada gril, desain pelek, dan logo Toyota.

Kemudian Rumion di pasar Afrika Selatan juga menggunakan interior serba hitam.

Hal ini berbeda dengan Ertiga di India yang menggunakan interior berwarna beige.

Ketika masuk ke dalam kabinnya, ke-2 MPV tersebut juga terlihat identik pada bagian dasbor kelengkapan fiturnya.

Dalam hal performa Rumion menggendong mesin 1.500 cc bensin dengan tenaga puncak 103 hp dan torsi maksimum 137 Nm.

Terdapat 2 pilihan transmisi yang terdiri dari 5-percepatan manual atau 6-percepatan otomatis.

Khusus pasar India diprediksi bakal ada versi mesin CNG.

Sumber yang sama juga mengatakan bahwa Rumion bakal meluncur di India pada September 2023.

Toyota Rumion Ikuti Jejak Model Kembar Lainnya

Kerja sama antara Toyota dan Suzuki memang menghadirkan produk kembar yang cukup luas.

Rumion bakal menjadi model kedua Toyota yang disuplai Suzuki untuk pasar India.

Toyota Rumion

Rumion bakal menjadi model kedua Toyota yang disuplai Suzuki untuk pasar India. Sebelumnya, Toyota sudah menjual Glanza yang berbasis dari Baleno.

Sebelumnya, Toyota sudah menjual Glanza yang berbasis dari Baleno.

Sementara itu, untuk di pasar mancanegara Suzuki juga menyuplai beberapa model untuk Toyota.

Seperti Ciaz yang dipasarkan dengan nama Belta, Celerio sebagai Vitz, dan Baleno sebagai Starlet.

Di lain sisi, Toyota juga menyuplai Suzuki untuk beberapa model, seperti Grand Vitara yang berbasis Hyryder.

Dan model yang baru-baru ini ialah Invicto dengan basis Innova Hycross.

Penulis: Mada Prastya
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 1,447

Gagal Ekspansi, India Tolak Rencana Investasi BYD

New Delhi — Nasib kurang baik menimpa produsen mobil listrik asal Cina, BYD lantaran rencana investasi yang diajukannya ditolak oleh Pemerintah India.

Dilansir dari laman Reuters, Senin (24/7/2023), Pemerintah India menolak proposal kerja sama yang dilayangkan BYD dengan Megha Engineering and Infrastructre Ltd yang berbasis di Hyderabad.

Padahal, menurut sumber yang sama, nilai investasi BYD di India tak main-main, yakni mencapai 1 miliar dolar AS atau setara Rp15 triliun.

Dana yang sangat besar tersebut kabarnya akan digunakan untuk membangun pabrik pembuatan mobil dan baterai.

investasi byd india

Mobil Listrik BYD (Foto: Thehindu)

Hasil dari keputusan Departemen Perdagangan India, Departemen Promosi Industri, dan Perdagangan Dalam Negeri  menyebutkan bahwa investasi BYD di India ini tidak akan terjadi.

“Kekhawatiran keamanan sehubungan dengan investasi Cina di India yang ditandai selama musyawarah berlangsung,” ujar salah satu pejabat India dikutip laman Reuters.

Sebelumnya Megha Engineering and Infrastructures sudah mengirimkan proposal kepada Pemerintah India untuk membentuk usaha patungan.

Tujuannya agar BYD bisa memproduksi mobil listrik secara lengkap untuk pasar India.

Menariknya, rencana investasi BYD di India ditengarai menjadi salah satu bagian dari perlawanan Cina melawan Tesla dari Amerika Serikat.

Jika BYD kesampaian melakukan investasi di India, maka bisa dipastikan merek asal Cina tersebut hadir di seluruh pasar mobil dunia kecuali Amerika Serikat.

investasi byd india

BYD sendiri diketahui tengah melakukan ekspansi besar-besaran di seluruh dunia.

Bahkan pada Mei 2023 lalu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B Pandjaitan, menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) antara Republik Indonesia dengan BYD di Shenzhen, Cina.

Penandatanganan dengan BYD tersebut merupakan proses lanjutan perihal investasi antara Indonesia dan Cina, termasuk dalam bidang mobil listrik.

Dikutip dari laman Kemenko Marves, penandatanganan tersebut disaksikan oleh General Manager BYD Divisi Penjualan Mobil Asia Pasifik, Liu Xueliang.

Mobil Listrik BYD (Foto:

Bahkan, CEO BYD Wang Chuanfu juga turut hadir dalam momen bersejarah ini.

Saat ini BYD merupakan salah satu merek terbesar di dunia lantaran terus berkembang di Eropa dan Asia.

Pada tahun 2022 lalu, total penjualan mobil listrik mereka menyentuh angka 1,85 juta unit.

Angka tersebut melesat jauh dibandingkan tahun 2021 yang hanya ada di 593.745 unit saja.

Merek yang sudah berdiri sejak 1995 silam ini kini sudah menjalankan aktivitas bisnisnya di lebih dari 50 negara dengan jumlah karyawan mencapai 220 ribu orang di seluruh dunia.

Penulis: Rizen Panji
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 1,211

Impor dari India, Masihkah Citroen E-C3 dan C3 Aircross Sesuai Selera Pasar Indonesia?

Tangerang — Citroen Indonesia baru saja meluncurkan E-C3, compact hatchback full elektrik alias mobil listrik, dan sekaligus memperkenalkan C3 Aircross, SUV 7-seater barunya.

Meski baru diperkenalkan, C3 Aircross sudah memiliki ancang-ancang harga jualnya di Indonesia nanti, yaitu sekitar Rp290—300 juta.

Citroen E-C3 dan C3 Aircross Indonesia

C3 Aircross sudah memiliki ancang-ancang harga jualnya di Indonesia nanti, yaitu sekitar Rp290—300 juta.(Foto: Citroen)

Dengan dimensi berukuran panjang 4.323 mm, lebar 1.796 mm, tinggi 1.669 mm dan wheelbase 4.323 mm, maka C3 Aircross berjenis SUV ini akan ditempatkan untuk melawan Suzuki XL7, Honda BR-V, Hyundai Stargazer X, dan Mitsubishi Xpander Cross di kelas Low SUV.

Sementara E-C3 sendiri langsung dijual di pameran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2023 kemarin dengan harga Rp395 juta (OTR Jakarta khusus GIIAS 2023), dan menjadi salah satu mobil listrik 4-pintu termurah di Indonesia setelah Neta V.

Namun, seperti C3 yang sudah diluncurkan resmi sebelumnya, E-C3 dan C3 Aircross ini pun diimpor utuh dari India.

Bahkan, model C3 dan C3 Aircross yang sudah diluncurkan di sini berbeda total dengan yang sudah beredar di Eropa.

Hal tersebut karena kedua mobil tersebut memang diciptakan khusus untuk negara berkembang seperti India dan Asia Tenggara.

Citroen C3 Aircross Indonesia

(Foto: Citroen)

Lalu, apakah mobil-mobil Citroen yang diimpor dari India ini memiliki spesifikasi dan fitur yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia? Apakah Citroen memiliki rencana untuk membangun mobil khusus untuk pasar Indonesia?

Carmudi pun mendapat kesempatan wawancara eksklusif dengan salah satu perwakilan Stellantis (induk perusahaan Citroen) ASEAN dalam ajang Media Roundtable Citroen Indonesia di GIIAS 2023 yang lalu.

Wawancara Eksklusif dengan Stellantis

Berikut beberapa hal yang bisa diambil dari hasil wawancara kami dengan Daniel Gonzalez, COO ASEAN & General Distributors Stellantis.

Carmudi: Citroen memiliki beberapa produk khusus negara seperti India dan Amerika Selatan, misalnya C3 dan C3 Aircross. Mengingat dari luar kebutuhan negara-negara tersebut mirip Indonesia, tentunya model tersebut juga akan dijual di Indonesia. Namun apakah Citroen memiliki rencana untuk membangun model khusus untuk Indonesia?

Daniel: Dari yang sudah saya lihat dan pelajari di sini, yang sebelumnya selalu kami diskuiskan dengan Indomobil juga selama ini; seiring berjalannya waktu kami di sini, tentu kami harus mengikuti kebutuhan masyarakat Indonesia. Namun apakah itu berarti sebuah mobil full baru? Tentunya sangat bergantung dengan volumenya.

Carmudi: Bagaimana dengan model spesial atau modifikasi khusus pasar Indonesia?

Daniel: Kenapa tidak? Jika memang ada basis konsumen yang kuat, membuat model spesial atau fitur khusus untuk pasar Indonesia akan sangat masuk akal.

Carmudi: Apa yang dibutuhkan agar penyesuaian produk Citroen untuk pasar Indonesia ini bisa dilakukan?

Daniel: Faktor kuncinya adalah; apakah volume basis konsumen yang memintanya cukup untuk melakukan hal itu? Untungnya, C3 dan C3 Aircross menggunakan apa yang kami sebut “Smart Car Platform”. Ini adalah platform yang memang didesain utamanya untuk India dan Asia Tenggara, justru pasar Amerika Latin melihat kesempatan saat ada model ini dan segera memasarkannya di sana karena dirasa cocok.

Carmudi: Apakah proses penyesuaian produk untuk pasar Indonesia ini sudah ada yang dilakukan?

Daniel: Ya, Indomobil sudah merencanakan dengan kami selama berbulan-bulan mengatakan “kami butuh ini, kami butuh itu…”. Dan itu kami lakukan untuk fase pertama ini, tentunya juga untuk fase-fase yang selanjutnya. Bahkan untuk E-C3 dan C3 Aircross ini, kami meminta Indomobil untuk datang ke pabrik dan katakan apa yang dibutuhkan untuk pasar Indonesia? Kami akan kerjakan itu.

Memang benar, mobil-mobil ini dibangun di India. Namun, ketika kami memikirkan Indonesia, tentunya kami harus membuat penyesuaian. Konsumen Indonesia akan meminta hal apa yang sangat mereka butuhkan, dan kami harus mendengarnya dan tentunya harus segera digerakkan.

Penyesuaian Citroen E-C3 dan C3 Air Cross untuk Pasar Indonesia

Tan Kim Piauw, Advisory Board PT Indomobil Wahana Trada selaku agen pemegang merek Citroen di Indonesia pun menjelaskan baik E-C3 dan C3 Aircross yang dijual di sini sudah mendapat penyesuaian besar.

Hal itu dilakukan Citroen untuk pasar Indonesia setelah mempelajari peluncuran C3 sebelumnya.

Dasbor Citroen C3 Aircross. (Foto: Citroen)

Citroen C3 Aircross di Indonesia disebut sudah mendapat penyesuaian besar, salah satunya transmisi otomatis yang bahkan belum atau tidak ada rencana diperkenalkan di India. (Foto: Citroen)

Misalnya, ketika C3 dulu hanya diluncurkan dalam pilihan transmisi manual, C3 Aircross kini hadir dalam pilihan transmisi otomatis yang bahkan belum atau tidak ada rencana diperkenalkan di India.

E-C3 yang memiliki bentuk identik dengan C3 pun memiliki beberapa improvement yang dikatakan datang dari saran pasar Indonesia; seperti pengaturan spion elektrik dari sebelumnya manual dan penggunaan lampu depan LED.

Hmm, jadi penasaran ya update apa lagi nantinya yang akan dibawa Citroen Indonesia untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat di sini?

Penulis: Fransiscus Rosano
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 961

5 Kekacauan MotoGP India: Visa Marquez Belum Kelar, Virus Nipah Mengancam

India — Jelang MotoGP India yang akan digelar pada 22—24 September ternyata terjadi banyak kekacauan dalam persiapannya.

MotoGP yang akan digelar di Sirkuit Buddh dengan panjang lintasan 4,9 km ini ternyata jauh lebih buruk.

Berdasarkan dari informasi yang kami rangkum dari berbagai sumber, terdapat sejumlah kekacauan yang terjadi jelang MotoGP India.

Persoalan yang terjadi tak hanya dialami oleh deretan pembalap, tapi juga kru serta media yang akan bertugas meliput.

Banyak yang Belum Menerima Visa

Pihak Honda Racing Corporation (HRC) mengaku bahwa 30 orang anggota timnya belum mendapatkan visa ke India.

Molornya visa ini mengakibatkan rombongan tidak bisa berangkat sesuai jadwal keberangkatan pesawat.

Bahkan, juara dunia 8 kali Marc Marquez, hingga artikel ini dbuat belum bisa terbang ke India karena masalah visa.

Ilustrasi. (Foto: Motorsport)

Alhasil, tim harus membeli tiket pesawat lagi guna mengakali visa yang belum bisa keluar jelang penerbangan.

Peter Ottl, bos tim Liqui Moly Moto3 bahkan mengatakan dari 14 orang tim, baru 3 yang memiliki visa.

Hal ini membuat 11 orang lainnya harus membeli tiket penerbangan baru untuk menuju ke lokasi.

Kargo Tidak Layak dan Telat

Masalah kargo atau pengiriman barang dari Bandara New Delhi hingga sirkuit dinilai tak layak oleh mayoritas tim.

Kendaraan yang digunakan untuk membawa barang dianggap tak layak pakai dan tidak memiliki standar keamanan yang baik.

Panitia lokal menggunakan truk trailer tanpa memberikan boks pelindung agar barang bawaan tidak rusak.

Dalam pantauan, beberapa barang dikabarkan telat datang walaupun tidak mengalami kerusakan.

Layout Sirkuit Berbahaya Hingga Ancaman Ular Berbisa

Sirkuit International Buddh cenderung lebih cocok digunakan untuk balap mobil dibanding sepeda motor.

Tercatat sirkuit ini sudah digunakan untuk balap F1 sejak 2011 hingga 2013 lalu dan kini coba digunakan untuk MotoGP.

Hal ini dikarenakan adanya tembok beton yang memiliki jarak berdekatan dengan tikungan yang dinilai bisa membahayakan pembalap.

Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) sudah meminta pihak sirkuit melakukan modifikasi dengan mengurangi permukaan aspal dan menambah lapisan kerikil.

motogp india

Luca Marini, Pembalap VR46 Ducati bahkan menilai layout sirkuit ini sangat membahayakan.

“Bagi mereka tidak apa-apa, tapi kita akan lihat beberapa pembalap menabrak tembok apakah ada konsekuensinya,” ujarnya.

Selain tembok dan area run-off, bahaya lain yang mengintai di sirkuit yakni banyak ditemui ular berbisa.

Dokter Angel Chartre, Direktur Medis MotoGP mengeluarkan peringatan tentang jumlah ular yang ada di sekitar trek.

Biaya Operasional Selangit

Seluruh kru dan awak media yang meliput gelaran MotoGP pertama di India ini mengeluhkan tingginya biaya mobilitas.

Seorang fotografer dikabarkan ditagih Rp2,4 juta hanya untuk menyewa skuter matik selama 3 hari jelang MotoGP berlangsung.

motogp india

Bahkan tim balap kecil harus mengeluarkan uang senilai Rp131 juta untuk menyewa mobil jemputan.

Sedangkan tim balap besar bisa mengeluarkan kocek senilai Rp330 juta untuk menyewa mobil jemputan tersebut.

Lalu untuk sewa hotel di sekitar sirkuit juga dinilai sangat mahal yang berimbas tim dan awak media harus mengeluarkan uang lebih.

Virus Nipah

Beberapa waktu lalu India memberlakukan lockdown lokal lantaran penyebaran virus Nipah di wilayah Kerala.

Tercatat sudah ada 2 korban meninggal dunia akibat virus tersebut.

Keamanan kesehatan ini juga menjadi perhatian penting bagi seluruh kru, pembalap, dan awak media.

Walaupun jarak antara Kerala dan lokasi MotoGP cukup jauh mencapai 2.500 km, tetapi virus Nipah ini tetap menimbulkan rasa khawatir.

Penulis: Rizen Panji
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 1,688