Review All New Toyota Yaris Cross: Bergerak Senyap! –

Kesempatan untuk melakukan first drive review All New Toyota Yaris Cross tentu tidak kami sia-siakan.

Oh iya, salah satu daya tarik kami dari mobil ini ada pada sistem hybrid yang ditanamkan.

Menurut Toyota, All New Yaris Cross menggunakan teknologi hybrid paralel yang fungsinya membuat bahan bakar jadi sangat efisien.

Toyota mengeklaim jika mobil ini mampu mencatatkan angka konsumsi BBM di 1:30 km/liter.

review yaris cross

Review All New Yaris Cross

Apalagi Toyota juga mengatakan bahwa All New Yaris Cross yang meluncur di Indonesia ini berbeda dengan versi Jepang dan Eropa.

Untuk pasar Eropa, mesinnya berkode M15A-FKS untuk non hybrid dan M15A-FXS untuk versi hybrid.

Sedangkan untuk yang di Indonesia mendapatkan mesin berkode 2NR-VE yang tentu familiar di sini.

Review All New Toyota Yaris Cross

Nah, berikut ini kami akan membeberkan rasa berkendara dari hasil review kami tentang All New Toyota Yaris Cross ini.

Posisi Duduk

Sebelum memulai perjalanan, kami mengatur posisi berkendara di area parkir After Seven tempat lokasi memulai perjalanan.

Di sini kami mengatur jok yang sudah dilengkapi pengaturan elektrik.

Setir juga dapat diatur secara tilt dan teleskopik untuk memudahkan mendapatkan posisi berkendara ideal.

Pengaturan gerakan spion juga bisa diatur secara elektrik, bahkan untuk melipat.

Kaca tengah juga memberikan visibilitas yang bagus ke belakang.

Terlebih kaca belakang yang ukurannya pas, tidak terlalu besar dan terlalu kecil yang akan memudahkan pengemudi saat melihat spion tengah.

Desain pada dasbor didesain driver oriented, sehingga memudahkan pengaturan bagi pengemudi saat berkendara.

Bahkan head unit sengaja mengarah ke arah driver agar mudah diakses.

Suara Senyap

All New Yaris Cross yang kami coba merupakan tipe S HV yang dijual seharga Rp440,6 juta OTR Jakarta.

Seperti kendaraan elektrifikasi lainnya, mobil ini memiliki karakter suara yang senyap ketika dinyalakan.

Ketika kami menyalakan mobil, tak terdengar suara mesin apapun.

Hal ini disebabkan karena mesin akan menyala pada mode listrik terlebih dahulu sebelum digunakan.

Selanjutnya ketika mobil sudah melebihi kecepatan di atas 40 km/jam, mesin secara otomatis akan pindah ke bensin.

Mirip seperti yang ada di Kijang Innova Zenix Hybrid yang kami coba sebelumnya.

review yaris cross

Pedal gas pun diinjak, kami merasakan suara senyap yang cukup baik dari mobil ini.

Jika baterai sudah terasa mau habis, generator penyuplai daya akan menyala.

Jika menyala, suaranya cukup terdengar walau tak terlalu bising yang disertai getaran minim.

Akan tetapi kami merasa jika hal ini rasanya masih cukup wajar untuk sebuah kendaraan hybrid.

Performa, Oke Lah!

Sebagai gambaran, sesi test drive yang disediakan PT Toyota Astra Motor (TAM) ini sangat singkat, hanya 50 menit saja.

Artinya, kami tak bisa melakukan eksplorasi mobil ini lebih dalam.

Pada mode Standard performa mesinnya terasa halus dan linear.

Rasanya mobil ini sangat cocok untuk digunakan pada tipikal jalanan yang macet dan stop and go seperti di Jakarta.

Salah satu yang kami suka dari mobil ini ada di bagian pengeremannya.

Rem pada All New Yaris Cross terasa responsif dan smooth ketika diinjak.

Karakternya mirip rem pada mobil Eropa yang agak dalam, tapi terasa pas.

Di atas kertas mesin ini punya kapasitas mesin 1.496 cc, 4 silinder, DOHC, dengan Dual VVT-i.

Tenaga yang dihasilkan mencapai 104,6 hp @6.000 rpm dengan torsi maksimum 138 Nm @4.200 rpm.

Mesin Toyota All New Yaris Cross

Mesin Toyota All New Yaris Cross (Foto: Toyota)

Tenaga tersebut disalurkan ke roda depan menggunakan transmisi otomatis CVT.

Menariknya, Toyota menyediakan mode berkendara seperti Standard, PWR (power), dan ECO yang bisa dipilih lewat tombol Drive di sisi kanan setir.

Ketika kami pindahkan ke mode PWR, tenaga mobil terasa lebih galak.

Karakternya bukan yang langsung menghentak, tetapi bisa dirasakan jika performa yang dikeluarkan lebih bertenaga.

Pada mode ECO, tenaga yang keluar tentu akan lebih lelet lantaran ECU membatasi mesin untuk mengeluarkan performa terbaik.

Mode ini sangat cocok untuk digunakan di kemacetan agar irit BBM.

Ketika dipacu dari 40 km/jam hingga 100 km/jam raungan mesin terdengar cukup kencang.

Sayang, jalanan sekitar ICE BSD siang ini ramai, kami tak ingin membahayakan orang lain hanya untuk memuaskan ego kami dan memilih berkendara santai.

Handling Baik

Walaupun kami tak melakukan banyak manuver di jalanan yang ada di BSD, tapi kami yakin mobil ini punya handling yang mumpuni.

Karakter setir terasa ringan ketika bermanuver pada kecepatan rendah.

Bantingan suspensinya pun cukup empuk.

Kami juga suka dengan karakter suspensi yang diberikan oleh All New Yaris Cross ini.

Hal itu dapat dilihat ketika kami melewati jalan keriting dan speed bump yang ada di kawasan BSD.

Saat mobil melewati speed bump, suspensi meredam cukup baik dan terasa empuk.

Kami menduga efek empuk ini dihasilkan oleh profil ban yang ukurannya sedikit lebih kecil, 215/55 R18.

Sedangkan tipe di bawahnya menggunakan pelek ukuran R17 yang dibalut ban 215/60.

Sayangnya, ketika melewati speed bump pada kecepatan yang agak tinggi, mobil terasa kurang nyaman dan cenderung bunyi ‘glodakan’.

Oh iya, platform yang digunakan pada All New Yaris Cross menggunakan DNGA.

Platform ini sama seperti yang digunakan pada Raize dan Veloz.

Kesimpulan Review All New Yaris Cross

Usai memakan waktu lebih kurang 50 menit berkeliling BSD, kami pun mencoba menarik benang merah dari hasil review singkat kami atas All New Yaris Cross.

review yaris cross

Menurut kami ada 3 poin yang seharusnya diperbaiki oleh Toyota.

Pertama soal refinement yang diberikan pada All New Yaris Cross.

Menurut kami mobil ini akan terasa nyaman ketika dikendarai santai dan agak kencang.

Kami berharap Toyota bisa memberikan karakter suspensi yang lebih refine, melihat harga jualnya yang di atas Rp400 jutaan.

Poin kedua tentu ada pada kekedapan kabin yang diharapkan bisa lebih baik.

Semoga saja ke depannya All New Yaris Cross ini bisa lebih kedap, ya.

Poin ketiga, tentu ada pada bagian atap panoramic.

Maklum, ini berkaitan dengan karakter orang Indonesia yang terkadang lebih menyukai atap yang bisa dibuka (sunroof) ketimbang hanya bisa dibuka tutup tirainya saja.

Penulis: Rizen Panji
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 4,610

Review Aprilia Tuareg 660: Bisa Terabas Segala Medan

Pada review kali ini kami akan membahas mengenai motor adventure atau petualang kelas menengah di Indonesia, yakni Aprilia Tuareg 660.

Motor yang didatangkan utuh secara langsung dari Italia ini sudah dijual resmi di Tanah Air sejak September 2022 lalu. Harganya terbilang mahal, dengan OTR Jakarta di angka Rp662 juta.

review aprilia tuareg 660

Tapi sejak Desember 2022 lalu PT Piaggio Indonesia (PID) memberikan exclusive voucher atau potongan harga senilai Rp220 juta sehingga harganya saat ini Rp442 juta OTR Jakarta.

Jika dilihat dari segi tampilan memang harus diakui motor ini benar-benar keren dan ganteng! Lantas, seperti apa impresi berkendara yang diberikan motor segala medan ini?

review aprilia tuareg 660

Review Aprilia Tuareg 660

Apakah motor ini bisa diandalkan untuk menerobos segala medan? Berikut ulasan review Aprilia Tuareg 660.

Tampilan Gagah!

Secara visual Aprilia Tuareg 660 benar-benar gampang menjadi pusat perhatian. Apalagi jika melihatnya dari sisi samping.

Beberapa kali kami sempat ditanya oleh pengendara motor lain dan juru parkir yang penasaran tentang motor apakah ini.

Saat ditanya, kami menjelaskan jika ini adalah sebuah merek asal Italia yang namanya masih cukup asing di telinga orang awam.

Umumnya mereka yang bertanya merasa penasaran dengan bentuknya. Bagian depan terlihat jangkung, sedangkan belakangnya mirip motor trail.

Desain ini sepintas mengingatkan kami kepada sepeda motor tokoh superhero asal Jepang, Satria Baja Hitam. Soalnya sama-sama tinggi di area depan.

Posisi lampunya cukup tinggi ditambah di depan ada windshield. Bagian depan stang diberikan handguard untuk pengamanan ketika main terabas.

Lalu di bagian belakang, muffler menjadi fokus visual lantaran ukurannya besar. Joknya dibuat rata seperti motor trail agar memudahkan pengendara berdiri saat bermain off-road.

Uniknya, lampu belakang dibuat melancip namun cukup terang saat malam hari. Seluruh pencahayaan sudah menggunakan lampu LED, jadi cukup terang ketika menyala.

Posisi Duduk

Sebagai gambaran, kami yang memiliki postur badan 172 cm dengan bobot 80 kg harus jinjit ketika posisi duduk di atas motor dengan bobot 240 kg ini. Ya, motor ini memang lebih cocok untuk mereka yang punya badan tinggi di atas 175 cm.

Untuk Carmudian dengan postur di bawah 170 cm rasanya akan cukup kesulitan saat berdiri. 

review aprilia tuareg 660

Walaupun besar, stang model fatbar yang digunakan terasa cukup nyaman. Posisi duduknya terasa rileks dan tegak.

Lanjut ke pengaturan di stang ya. Di sebelah kiri terdapat tombol sein, klakson, pengaturan MID, cruise control, dan lampu jauh di balik handguard.

Sementara di sisi kanan terdapat tombol Mode berwarna hitam yang bisa dipilih (Urban, Explore, Off-Road, dan Individual).

Lalu di atasnya terdapat tombol merah untuk cut-off engine serta starter. Di atasnya merupakan tombol untuk lampu depan, bisa dinyalakan dan dimatikan sesuai kebutuhan. 

Untuk menggapai seluruh tombol tersebut terasa mudah dan tidak menyulitkan. Paling yang sedikit merepotkan ketika hanya ingin mengaktifkan cruise control saja.

Fitur Bertaburan

Ada apa saja fitur di motor ini? Pertama tentu ada di layar TFT berukuran 5 inci. Layar ini bisa disetel sesuai kebutuhan seperti layar putih (siang) atau layar hitam (malam).

konsumsi bbm aprilia tuareg

Kalau nggak mau repot memindahkan, setel saja di otomatis. Maka layar akan berubah menjadi hitam ketika kondisi gelap.

Lanjut, di dalam layar tersebut terdapat informasi seperti di bawah ini. 

  • Speedometer
  • Tachometer
  • Odometer
  • Indikator bensin 
  • Posisi gigi saat berkendara
  • Tripmeter
  • Suhu luar 
  • Temperatur mesin 
  • Riding mode 

Sebenarnya masih ada fitur lain yang tampil seperti koneksi Bluetooth yang hanya bisa diakses lewat perangkat opsional Aprilia MIA. 

konsumsi bbm aprilia tuareg

Kalau mau tersambung dengan motor, Anda harus membeli perangkat tersebut. Jika sudah terpasang bisa juga untuk menyambungkan intercomm.

Belum selesai sampai di situ, pabrikan asal Italia ini juga menanamkan Aprilia Performance Ride Control (APRC) yang terintegrasi dengan fitur di bawah ini.

  • Aprilia Traction Control (ATC)
  • Aprilia Engine Brake (AEB)
  • Aprilia Engine Map (AEM).

Torsi Mesin Galak

Untuk menggerakkan motor ini tentu rasanya cukup berat. Motor seakan memberikan intimidasi lewat tampilannya yang garang.

Tarik kopling, injak gigi 1 motor pun mulai bergerak. Saat bergerak motor terasa ringan dan mudah dikendalikan. 

review aprilia tuareg 660

Joknya empuk, hanya saja ketika dipakai riding lama-lama akan terasa panas di pantat. Hal ini dikarenakan ujung jok berbentuk kotak, sehingga sisi kanan dan kiri pantat cepat panas.

Oh iya sampai lupa, Aprilia Tuareg 660 ini memiliki mesin dengan spesifikasi di bawah ini, ya. 

Spesifikasi Mesin Aprilia Tuareg 660

Kapasitas 659 cc, 2 silinder segaris, injeksi
Teknologi DOHC
Pendingin Cairan 
Transmisi 6-percepatan 
Tenaga 80 hp @9.250 rpm
Torsi 70 Nm @6.500 rpm
Kapasitas tangki BBM18 liter 
Minimal RON 95 
Emisi Euro5

Ketika motor sudah berjalan di atas 40 km/jam, pengendara tak perlu menarik tuas kopling lantaran Tuareg 660 sudah dibekali dengan quickshifter.

Karakternya pun halus, tak terlalu menghentak ketika naik gigi. Begitu juga sebaliknya ketika hendak menurunkan gigi, walaupun masih ada sedikit hentakan yang masih terasa enak.

Putaran mesin bawah dan menengah punya torsi badak. Saat kami berboncengan ke arah Puncak, Bogor, Jawa Barat, di posisi gigi 3 atau 4 motor masih dengan mudah menanjak tanpa kehilangan momentum. Nice

Namun ketika kami coba mengendarai sendirian di trek lurus, putaran menengah sampai atas terasa boyo. Wajar saja jika motor ini keperluannya untuk terabas atau adventure.

Rem Jempolan

Melihat galaknya tenaga yang dihasilkan, Aprilia menyematkan 3 buah cakram di motor ini. 2 di depan sementara 1 di belakang.

Rem depan memakai 2 buah cakram berukuran 300 mm yang disertai kaliper 2 piston. Tuas rem depan pun bisa diatur dengan cara mendorong ke depan dan memutar angka 1-4 mirip tuas rem aftermarket.

Sedangkan di belakang memakai 1 buah cakram berukuran 260 mm yang dikawal kaliper 1 piston. Rem belakang rasanya Senin-Kamis, sehingga harus menginjak agak dalam jika ingin mengandalkan pengereman belakang.

Review Suspensi Aprilia Tuareg 660, Empuk!

Urusan suspensi, boleh dibilang jika review suspensi Aprilia Tuareg 660 ini juara. Terutama suspensi depan yang menurut kami sangat empuk dan lembut.

Suspensi depan memakai upside down fully adjustable (kompresi dan rebound) berukuran 43 mm buatan Kayaba. 

Pengaturan kompresi ada di sebelah depan kiri, sedangkan sebelah kanan untuk rebound. Pokoknya pengendara bisa mengatur sesuai kebutuhan.

Lanjut suspensi belakang. Pengaturan suspensi belakang terdapat di sisi kiri, atau di bawah jok kiri. Modelnya kenop putaran untuk mengatur keras dan empuk bantingan sebanyak 26 klik.

Putar ke kiri, suspensi belakang menjadi empuk, sedangkan putar ke kanan menjadi keras. Pada pengetesan, kami memutar ke arah paling kiri atau paling empuk demi kenyamanan berkendara.

Review Handling Aprilia Tuareg 660

Walaupun di atas kertas motor ini terlihat berat dan besar, tetapi untuk diajak bermanuver sungguh mudah. Beberapa kali kami menikung dengan kecepatan 70-80 km/jam menuju arah Cibodas bisa dilewati dengan mudah.

 

Padahal ban depan dan belakangnya berbeda. Di depan memakai pelek ukuran 21 inci yang dibalut ban 90/90, belakangnya memakai pelek 18 inci dengan ban 150/70.

Kedua ban ini memakai Pirelli Scorpion Rally berjenis tubeless, yang siap garuk tanah. Ban ini masih bisa diajak melahap jalur aspal dan cor-coran dengan grip maksimal. 

Hanya saja ketika dihadapkan dengan kemacetan, kami agak terasa sedikit kerepotan lantaran stang fatbar ini terasa lebar. 

Kesimpulan Review Aprilia Tuareg 660

Berdasarkan hasil review kami terhadap Aprilia Tuareg 660, rasanya motor ini lebih cocok digunakan untuk sendiri baik untuk touring atau off-road.

Saat menjadi penumpang, bagian tulang ekor hingga pinggang terasa cepat pegal dan kebas. 

Bagaimana dengan panas mesin saat berkendara? Ketika menjadi penumpang, panas mesin tidak terlalu terasa. 

Kami hanya merasa hangat di bagian kaki lantaran dekat knalpot. Tapi berbeda ketika menjadi pengendara, panas mesin akan terasa di bagian paha hingga pantat sebelah kanan.

Ketika extra fan menyala, panas akan semakin terasa di sisi kanan saja. Walaupun dipakai macet-macetan dan panas, tetapi performa mesin tidak menurun.

jok aprilia tuareg 660

Konsumsi pemakaian dalam kota dan luar kota juga terbilang boros, 16,6 km/liter dengan berkendara santai.

Berbeda dengan Moto Guzzi V85 TT Travel yang pernah kami coba, catatan konsumsi BBM rata-rata ada di 30 km/liter.

Namun rasanya menurut kami motor ini punya kelebihan di desain yang mampu membuat pengendara lain terpana.

Kami beberapa kali dipandang orang dengan tatapan heran dan terpukau. 

tangki aprilia tuareg 660

Jika Carmudian memiliki bujet Rp440 jutaan dan ingin moge anti mainstream rasanya bisa memiliki motor ini.

Di Indonesia Aprilia menawarkan Tuareg 660 dengan 2 warna yakni Indaco Tagelmust (biru) dan Acid Gold (hitam) seperti yang kami tes ini.

ban belakang aprilia tuareg 660

Gimana menurut Carmudian, ganteng nggak sih motor ini? 

Penulis: Rizen Panji
Foto: Carmudi/ Rizen, Badjora
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 1,307

Review Mazda All New CX-60: 6 Hal Penting yang Harus Anda Tahu

PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) menambah lini produk kendaraannya di Tanah Air melalui Mazda All New CX-60.

Mobil ini menawarkan pengalaman berkendara yang bertenaga dengan bekal mesin 3.283 cc turbo miliknya.

Hal itu masih ditambah lagi handling yang asyik untuk sebuah Sport Utility Vehicle (SUV) berbodi bongsor dengan dimensi panjang hingga 4,7 meter.

Hal itulah yang Carmudi rasakan ketika coba mengendarai mobil ini pada awal Juli lalu, sebelum peluncuran resminya.

Selain itu, tentunya masih ada banyak aspek yang perlu diketahui konsumen seandainya berniat membeli mobil ini.

Informasi lebih rinci mengenai hal itu bisa disimak di bawah ini.

1. Tersedia dalam 2 Varian

Mazda All New CX-60

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Hingga ulasan ini dibuat kurang dari seminggu sebelum peluncuran, All New CX-60 untuk pasar Indonesia diketahui tersedia dalam 2 varian, Elite dan Kuro.

Di bagian luar, Kuro sebagai varian tertinggi menggunakan gril honeycomb sedangkan untuk varian Elite grilnya punya desain garis-garis vertikal.

Lalu kalau masuk ke interiornya maka varian Kuro terlihat menggunakan material Nappa leather berwarna cokelat.

Material dengan warna senada juga bisa ditemui di lingkar setir varian Kuro yang dipadukan dengan warna hitam.

Di lain sisi, varian Elite juga menggunakan bahan interior Nappa leather, tapi berwarna putih.

Kemudian lingkar setir varian Elite pakai bahan kulit warna hitam.

2. Dimensi Bodi Mirip Fortuner dan Pajero Sport

Mazda All New CX-60

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Diketahui, All New CX-60 masuk ke dalam kategori Large Product Group dari pabrikan Mazda.

Wajar jika bodi mobil ini juga tergolong besar, mirip-mirip dengan dimensi bodi SUV ladder frame yang ada di Indonesia pada saat ini.

Menurut lembar spesifikasinya, mobil ini memiliki dimensi panjang 4.740 mm, lebar 1.890 mm, dan tinggi 1.686,5 mm.

Sementara itu, untuk wheelbase dan ground clearance-nya masing-masing memiliki angka 2.870 mm serta 177,7 mm.

Jika dibandingkan dengan Pajero Sport atau Fortuner, bodi All New CX-60 memiliki profil yang lebih rendah.

Selain itu, kedua rivalnya tersebut memiliki ground clearance lebih jangkung yang rata-rata angkanya di atas 200 mm.

3. Mesin Mild Hybrid dan AWD

Mesin Mazda All New CX-60

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

All New CX-60 yang masuk pasar Indonesia hanya tersedia dalam versi mesin mild hybrid walau di luar negeri juga tersedia versi Plug-in Hybrid (PHEV).

Pada saat kebanyakan pabrikan otomotif berlomba-lomba mengedepankan mesin kecil, Mazda justru percaya diri dengan mesin berkapasitas 3.283 cc untuk mobil ini.

Mesin dengan konfigurasi 6-silinder segaris itu turut dilengkapi dengan turbo.

Di atas kertas, mesin All New CX-60 dapat menghasilkan tenaga tertinggi 280 hp @ 5.000—6.000 rpm dan torsi maksimum 450 Nm.

Semua varian All New CX-60 menggunakan sistem transmisi otomatis 8-percepatan.

Sementara itu, tenaga yang dihasilkan oleh mesin disalurkan ke setiap roda melalui sistem All Wheel Drive (AWD).

4. Kabin Driver Oriented

Interior Mazda CX-60

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

All New CX-60 akan menawarkan kenikmatan tersendiri bagi mereka yang mengambil posisi sebagai pengemudi mobil ini.

Contohnya, melalui posisi duduk yang ideal untuk kenyamanan selama berkendara.

All New Mazda CX-60 memiliki fitur driver personalization system yang memungkinkan pengendara mendapatkan posisi duduk terbaik secara otomatis.

Caranya dengan memanfaatkan kamera pengenal wajah yang terletak di samping layar head unit.

Untuk memanfaatkan fitur ini, pengemudi hanya perlu memilih menu tersebut kemudian memasukkan tinggi badannya.

Mobil akan secara otomatis mengatur posisi berkendara yang ideal berdasarkan hal itu.

Jika pengemudi merasa belum puas dengan hasilnya maka bisa melakukan penyesuaian yang diperlukan lalu menyimpan pengaturannya.

Kabin yang driver oriented juga terasa dari konsol tengah yang lebar, memisahkan pengemudi dengan penumpang di sampingnya secara tegas.

5. All New CX-60 Punya Fitur-fitur Premium

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Kesan yang mewah dari mobil ini tak lepas dari fitur-fitur premium yang dimilikinya.

Ambil contoh untuk infotainment, mobil ini menggunakan sistem audio dari Bose yang dilengkapi dengan 12 speaker.

Hal ini bisa ditemui oleh konsumen yang memilih varian Elite ataupun Kuro.

Untuk head unit-nya menggunakan ukuran 12,3 inci dengan turut dilengkapi Mazda Connect. Panel instrumennya pun menggunakan layar digital dengan ukuran yang sama.

Fitur lain yang sudah menjadi standar di semua varian, di antaranya sunroof dan berbagai fitur keselamatan aktif.

Di antaranya radar cruise control, Lane Departure Warning System (LDWS), Lane Keep Assist System (LAS), Blind Spot Monitoring (BSM), atau Rear Cross-Traffic Alert (RCTA).

6. Performa dan Handling Sporty

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Dalam kesempatan mengendarai mobil ini pada awal Juli lalu, Carmudi berkesempatan merasakan secuil performanya yang boleh dibilang tergolong sporty.

Tarikan mesin yang bertenaga seolah membuat mobil ini tak perlu berusaha keras untuk mencapai kecepatan tinggi.

Walaupun uji coba dilakukan di tempat terbatas, tapi potensi akan hal tersebut dapat terlihat.

Hal ini dibarengi lagi dengan handling yang asyik untuk diajak bermanuver.

Bantingan suspensi All New CX-60 memang bukan yang paling empuk, tapi hal ini justru membuat lebih stabil ketika menikung.

Suara deru mesin 6-silinder mobil ini masih bisa dirasakan telinga dari dalam kabin sehingga makin menggugah adrenalin untuk memacunya.

Penulis: Mada Prastya
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 3,024

Honda Scoopy 2023, Review Spesifikasi Fitur dan Harga Terbaru

Honda Scoopy 2023 dapat menjadi pilihan bagi konsumen yang menginginkan skuter matik bergaya retro modern.

Untuk itu mari simak ulasan terkait spesifikasi, fitur, dan harga terbarunya saat ini.

Warna Honda Scoopy Terbaru

(Foto: AHM)

Tentang Honda Scoopy

Kehadiran Scoopy itu sendiri sudah mewarnai pasar otomotif Indonesia sejak tahun 2010.

Model ini hadir untuk menjadi pesaing Yamaha Fino yang sama-sama memiliki desain retro.

Sampai saat ini Scoopy di Indonesia setidaknya sudah hadir dalam 4 generasi.

PT Astra Honda Motor (AHM) terus melakukan pembaruan model ini secara rutin.

Contoh terkini ialah hadirnya Scoopy facelift pada Oktober 2022 yang menawarkan pilihan warna lebih segar.

Mesti diakui bahwa Scoopy mengalami evolusi desain yang makin menarik dari waktu ke waktu.

Pada generasi-generasi awal model ini masih menggunakan ban berukuran 14 inci kemudian jadi lebih kecil menggunakan ukuran 12 inci.

Hal ini membuatnya makin bergaya Eropa yang diiringi juga dengan desain bodi lebih membulat.

Harga Honda Scoopy 2023

Berikut ini adalah daftar harga Scoopy 2023 yang dirangkum dari situs web AHM pada awal Agustus 2023.

Scoopy tersedia dalam 4 varian yang utamanya dibedakan dari grafis bodi atau warnanya, yaitu Scoopy Fashion, Scoopy Sporty, Scoopy Prestige, dan Scoopy Stylish.

Varian Scoopy Prestige dan Scoopy Stylish terpantau memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan 2 varian lainnya.

  • Honda Scoopy Fashion Rp21,8 jutaan
  • Honda Scoopy Sporty Rp21,8 jutaan
  • Honda Scoopy Prestige Rp22,6 jutaan
  • Honda Scoopy Stylish Rp22,6 jutaan

Harga Scoopy boleh dibilang tergolong tinggi untuk ukuran skuter matik bermesin 110 cc.

Contoh perbandingannya bisa dilihat dari model lainnya di dalam lini produk Honda itu sendiri, yaitu BeAT, BeAT Street, atau Genio.

Ketiga model tersebut dijual dalam rentang harga Rp18 jutaan sampai Rp19,7 jutaan.

Dengan harga setinggi itu kemungkinan membuat calon konsumen penasaran terhadap spesifikasi atau fitur yang didapat.

Oleh karena itu mari simak ulasan lebih lanjutnya di bawah ini.

Warna Honda Scoopy Terbaru Paling Update Cek di Sini

(Foto: AHM)

Spesifikasi Honda Scoopy 2023

Berikut ini adalah spesifikasi teknis Scoopy terbaru yang dipasarkan di Indonesia saat ini.

Dimensi

Dimensi P x L x T1.864 mm x 683 mm x 1.075 mm
Jarak Sumbu Roda1.251 mm
Jarak Terendah ke Tanah145 mm
Tinggi Tempat Duduk746 mm
Berat Kosong94—95 kg

Mesin

Tipe Mesin4-langkah, SOHC, eSP
Tipe PendinginanPendingin Udara
Sistem Bahan BakarPGM-FI 
Volume Langkah109,5 cc
Diameter x Langkah47 x 63,1 mm
Perbandingan Kompresi10:1
Daya Maksimum8,8 hp
Torsi Maksimum9,3 Nm
Tipe TransmisiOtomatis, V-Matic
Tipe StarterElektrik & Kick Starter / Elektrik (Tipe Smart Key)
Tipe KoplingOtomatis, Sentrifugal, Tipe Kering
Kapasitas Oli Mesin0,65 mm

Rangka

Tipe RangkaUnderbone – eSAF
Ukuran Ban Depan100/90 – 12 59J
Ukuran Ban Belakang110/90 – 12 64J
Tipe Rem DepanCakram Hidrolik, Piston Tunggal
Tipe Rem BelakangTromol
Sistem PengeremanCombi Brake System
Tipe Suspensi DepanTeleskopik
Tipe Suspensi BelakangLengan Ayun dengan Peredam Kejut Tunggal

Kelistrikan

Sistem PengapianFull Transistorized
Tipe BateraiMF 12V-5Ah
Tipe BusiNGK MR9C-9N

Fitur Honda Scoopy 2023

Sekarang mari tengok fitur yang dimiliki oleh Scoopy 2023 dimulai dari yang dapat dilihat secara langsung di bodinya.

Walau memiliki desain yang kental dengan nuansa retro, tapi Scoopy tetap tampil dengan fitur-fitur kekinian.

Contohnya bisa dilihat dari lampu depannya yang sudah menggunakan proyektor LED.

Sementara itu, jika beranjak ke bagian instrumen panelnya maka konsumen akan menjumpai kombinasi antara speedometer analog dan Multi Information Display (MID) digital di bawahnya.

Tak kalah penting, Scoopy juga sudah dilengkapi dengan Smart Key System yang memiliki beberapa fungsi, seperti halnya Answer Back System dan Anti Theft Alarm.

Nah, penting diketahui bahwa fitur Smart Key System ini hanya terdapat pada varian Scoopy Prestige dan Scoopy Stylish.

Fitur lain yang juga bisa dijumpai pada skuter matik ini ialah soket USB charger yang terdapat di dalam konsol boks.

Soket USB charger itu sendiri disebut memiliki output maksimal 5V 2,1A.

Dalam hal kepraktisan, Scoopy memiliki bagasi di bawah joknya yang Honda sebut sebagai Big U-Box.

Terlepas dari semua hal itu, Scoopy tak diragukan sebagai salah satu skuter matik favorit konsumen Indonesia.

Keberadaan skuter matik ini bisa ditemui dengan sangat mudah di jalanan.

Walau begitu, mungkin saja masih ada beberapa kalangan yang masih asing dengan skuter ini.

Oleh karena itu mari lihat beberapa pertanyaan yang beredar di internet mengenai Scoopy khususnya keluaran tahun 2023.

New Honda Scoopy

Boks konsol depan Scoopy (Foto: AHM)

Honda Scoopy 2023 Cocok Pakai Bensin Apa?

Guna mengetahui jenis bensin yang cocok untuk Scoopy bisa menengok pada angka kompresi mesin yang dimiliki skuter matik ini.

Seperti dijelaskan lebih awal, Scoopy memiliki kompresi mesin 10:1.

Sementara itu, AHM dalam salah satu artikel di situs web resminya menjelaskan, mesin dengan dengan kompresi 10:1 sampai 11:1 idealnya menggunakan bensin dengan Research Octane Number (RON) 92.

Seperti diketahui, bensin dengan RON 92 contohnya antara lain Pertamax, BP92, Shell V-Power, atau Revvo 92.

Penggunaan bensin yang tidak sesuai spesifikasi dalam jangka waktu lama berpotensi mengganggu performa mesin.

Berapa Harga Motor Scoopy Tahun 2023?

Scoopy tersedia dalam 4 varian yang utamanya dibedakan dari grafis bodi atau warnanya, yaitu Scoopy Fashion, Scoopy Sporty, Scoopy Prestige, dan Scoopy Stylish.

  • Honda Scoopy Fashion Rp21,8 jutaan
  • Honda Scoopy Sporty Rp21,8 jutaan
  • Honda Scoopy Prestige Rp22,6 jutaan
  • Honda Scoopy Stylish Rp22,6 jutaan

Khusus Scoopy Prestige dan Scoopy Stylish turut dilengkapi dengan fitur Smart Key System yang memiliki fungsi Answer Back dan Anti Theft Alarm.

Harga Scoopy itu sendiri tergolong tinggi untuk ukuran skuter matik bermesin 110 cc.

Hal ini bisa dibandingkan dengan skuter matik Honda lain dengan kapasitas mesin yang sama, seperti BeAT, BeAT Street, atau Genio.

Ketiga model tersebut dijual dalam rentang harga Rp18 jutaan sampai Rp19,7 jutaan.

Kesimpulan Honda Scoopy 2023

Demikianlah ulasan mengenai skuter matik Scoopy terutama buatan tahun 2023 yang dijual di pasaran.

Boleh dikatakan Scoopy merupakan salah satu pilihan skuter matik bergaya retro modern yang saat ini tersedia di Indonesia.

Penampilan Scoopy pun berevolusi makin terasa Eropa dengan desain terkini dan ukuran bannya yang jadi lebih kecil.

Walau begitu skuter matik ini memiliki banderol yang tak bisa dikatakan murah untuk produk sekelasnya.

Penulis: Mada Prastya
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 20,296

Review Vespa Elettrica: Terasa Biasa Tapi Menyenangkan

Kami mendapat kesempatan untuk melakukan review singkat Vespa Elettrica di Plaza Senayan, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (24/8/2023).

Seperti apa rasanya?

Vespa Elettrica saat ini layak menyandang gelar sepeda motor Vespa termahal yang ada di Indonesia saat ini.

review vespa elettrica

Harga yang dibanderol oleh PT Piaggio Indonesia (PID) ada di Rp198 juta OTR Jakarta yang dikatakan saat peluncuran.

Motor listrik yang bodinya mirip dengan Primavera ini didatangkan utuh secara langsung dari Italia.

Artinya, darah Vespa murni tertanam di Elettrica walaupun kini ia tak lagi menenggak bahan bakar minyak. 

Tampilan Desain 

Secara tampilan, Elettrica terlihat sama persis dengan Primavera yang sudah ada di Indonesia sebelumnya.

Tapi kalau dilihat lebih detail, ternyata ada beberapa perbedaan yang cukup mudah dikenali dari motor bergaris biru ini.

review vespa elettrica

Salah satunya adalah bagian spion yang tangkainya dibuat lebih panjang dari milik Primavera yang sudah ada.

Spion ini diharapkan bisa memberikan visibilitas yang sangat baik ketika pengendara melihat ke belakang.

Jika diperhatikan, Elettrica ternyata memiliki dimensi yang sedikit lebih lebar dengan wheelbase lebih panjang.

Dimensi panjangnya mencapai 1.870 mm, dengan lebar 735 mm, tinggi 790 mm, serta wheelbase 1.350 mm.

review vespa elettrica

Perbedaan lainnya tentu ada di warna. Elettrica menggunakan paduan warna silver dengan aksen biru di beberapa bagian.

Warna biru ini dapat dilihat di bagian pinggir bodi samping, dasi depan, dan pelek.

Posisi Duduk 

Ketika menduduki motor listrik ini, rasanya sama persis seperti duduk di atas Primavera pada umumnya.

Namun, secara total bobot Elettrica 20 kg lebih berat dibanding Primavera karena baterai dan motor listrik.

Walaupun lebih berat, tetapi performa motor tetap menyajikan khas motor listrik yang punya respons spontan ketika gas dipelintir.

Vespa memberikan 2 mode berkendara pada Elettrica yakni Eco dan Power. Oh iya, ada juga mode Reverse yang bisa dipakai untuk mundur.

Untuk memindahkan mode, pengemudi hanya perlu menekan tombol MAP di setang bagian kanan.

Klik 2 kali untuk mengganti mode yang ada, lalu tekan tombol MAP beberapa detik untuk mengaktifkan mode berkendara.

Impresi Berkendara Vespa Elettrica 

Sebagai gambaran, tim Carmudi yang mengendarai Vespa Elettrica memiliki postur 172 cm masih bisa duduk dengan mudah di atas motor.

Kaki terasa leluasa seperti mengendarai Vespa Primavera pada umumnya.

Namun satu hal yang cukup menarik perhatian, torsi instan yang dihasilkan motor listrik ini terasa lembut atau smooth.

Karakternya tidak terlalu agresif yang menghentak, namun bisa dirasakan dengan mudah untuk beradaptasi.

Menggunakan mode Eco, tenaga yang dihasilkan cenderung lebih lemot dan linear.

Hal ini bertujuan agar daya baterai tidak cepat habis ketika sedang berkendara sehingga jarak tempuhnya bisa jauh.

Sementara mode Power menghasilkan torsi yang jauh lebih instan dan sekali lagi, karakternya tidak terlalu yang menjambak mirip motor listrik lain.

Karakter suspensi yang dihasilkan menurut kami sedikit lebih empuk.

Kami beranggapan hal ini disebabkan oleh beratnya yang bertambah.

Mode Reverse atau mundur pun juga turut kami cicipi guna menjawab rasa penasaran. 

Ketika masuk mode Reverse, pengemudi harus tetap memutar handle gas agar motor listrik ini bisa bergerak.

Saat sedang mundur, Vespa Elettrica juga memberikan suara demi menambah keamanan saat parkir.

Sekitar 10 menit mencoba, kami pun menarik benang merah bahwa motor listrik Italia ini ternyata rasa berkendaranya biasa saja.

Bahkan kami sepakat rasanya memang tak ada spesialnya.

Kesimpulan Review Vespa Elettrica

Lokasi test ride di area parkir Plaza Senayan menurut kami sangat kurang menggambarkan kondisi berkendara di jalan.

Jika saja bisa mendapatkan kesempatan lebih jauh untuk mencoba motor selama beberapa hari, mungkin kami bisa memberikan gambaran detail mengenai motor ini.

Di atas kertas Vespa Elettrica dibekali baterai berkapasitas 86 Ah dengan energi baterai 4,2 kWh.

Untuk mengisi daya baterai pun sangat mudah, pengemudi hanya perlu menarik kabel casan yang ada di bawah jok.

Lokasinya ada di bagian tangki BBM, namun dibuat tertutup dengan cover plastik hitam.

Ketika tutup plastik dibuka, maka akan langsung terlihat kabel casan yang bisa ditarik keluar untuk mengisi daya baterai.

Oh iya, ketika ingin memiliki motor listrik ini Carmudian disarankan mengetahui berapa beban listrik dari benda elektronik yang ada di rumah.

review vespa elettrica

“Sebaiknya tahu dulu berapa kebutuhan listrik di rumah. Kemudian ditambah 1.500 watt, karena ketika ngecas ini narik daya sampai 1.500 watt,” ujar Irvan Henrianto, Technical Training Manager PT PID di lokasi.

Untuk mengisi daya hingga penuh dibutuhkan waktu selama 4-8 jam tergantung temperatur baterai dan suhu lingkungan.

Pengecasan baterai dikatakan juga masih menggunakan listrik AC.

review vespa elettrica

Setelah melakukan review singkat pada Vespa Elettrica, kami setuju jika motor listrik ini memang lebih cocok untuk menunjang gaya hidup kelas atas.

Harga yang mahal, desain mewah ala Italia, dan jumlah di Indonesia yang terbatas menjadi alasan mengapa kami sepakat jika motor ini lebih cocok dimiliki orang kaya.

Penulis: Rizen Panji
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 3,525

Cara Bikin Review Mobil, Dibahas Tuntas dalam “Coaching Clinic: Shorts is The Future”

Jakarta — Cara bikin review mobil terutama dalam format video pendek menjadi topik pembahasan utama dalam “Coaching Clinic: Shorts is The Future”.

Kegiatan yang diadakan oleh Carmudi, AutoFun, dan Mobil123 itu telah sukses digelar, Rabu (30/8/2023) di Jakarta Selatan dengan dukungan penuh dari Wuling Motors.

Cara Bikin Review Mobil, Dibahas Tuntas dalam “Coaching Clinic_ Shorts is The Future”

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Menurut catatan panitia, kegiatan ini setidaknya dihadiri 49 partisipan yang merupakan content creator.

Para partisipan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap topik yang dibawakan dalam coaching clinic ini.

Hal itu terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada sesi tanya jawab.

Contohnya, cara menentukan aspek yang menarik untuk dibahas dari sebuah kendaraan hingga menentukan waktu yang tepat untuk mempublikasikan video yang telah dibuat.

Coaching Clinic Wuling Motors

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

“Seru ini, pertama kalinya ikut pelatihan content creator, bermanfaat banget. Biasanya saya bikin konten nggak tahu tujuannya buat apa,” kata Cantika (20), partisipan yang berasal dari kalangan mahasiswa salah satu kampus di Jakarta.

Jalannya “Coaching Clinic: Shorts is The Future” itu sendiri diisi dengan penyampaian materai oleh para reviewer Carmudi dan AutoFun, yaitu Fransiscus Rosano (Carmudi), Helmi M. Alfriandi (AutoFun), dan Ahmad Karim (AutoFun).

Coaching Clinic Wuling Motors (1)

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Selain Bahas Cara Bikin Review Mobil, Juga Mengupas Serba Serbi Wuling Air EV

Pihak Wuling Motors yang diwakili Brian Gomgom selaku Public Relations Manager Wuling Motors juga turut menyampaikan presentasinya terutama tentang mobil listrik Air EV.

Di luar dugaan, ternyata juga banyak peserta yang memiliki rasa penasaran terhadap mobil listrik compact tersebut walau sudah sering melihatnya di jalan raya.

Coaching Clinic Wuling Motors (2)

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

“Saya jadi tahu penggunaan mobil listrik. Manfaatnya buat aku, jadi bisa tahu ada mobil listrik yang nggak banyak biaya perawatannya,” kata Fani (20), partisipan yang juga berstatus mahasiswa.

Pada penghujung kegiatan, para partisipan kemudian mendapatkan kesempatan mengeksplorasi dan membuat konten mengenai mobil listrik Air EV yang di-display di lokasi acara. 

Coaching Clinic Wuling Motors (3)

(Foto: Mada Prastya)

Setelah kegiatan “Coaching Clinic: Shorts is The Future” kemarin, rencananya bakal ada kegiatan serupa yang digelar pada tanggal 21 September 2023 mendatang.

Masyarakat yang tertarik untuk mengikuti coaching clinic berikutnya bisa memantau media sosial Carmudi guna mendapatkan informasi pendaftarannya. 

Penulis: Mada Prastya
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 3,628

Review Mitsubishi XForce, Stiff dan Rigid!

Kesempatan untuk melakukan first drive Mitsubishi XForce tak kami sia-siakan untuk menjadi bahan review mobil terbaru di Carmudi.

Pada Rabu (6/9/2023) lalu PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) memberi kesempatan menguji langsung mobil tersebut.

Lokasi pengujiannya berlangsung di Proving Ground milik Bridgestone di Karawang, Jawa Barat dengan berbagai obstacle yang disiapkan.

review mitsubishi xforce

Bahkan turut hadir juga Rifat Sungkar, pembalap Mitsubishi yang memberikan taxi ride kepada awak media yang hadir saat itu.

Review Mitsubishi XForce

Lalu seperti apa rasa berkendara dari Mitsubishi XForce ini? Berikut kami paparkan hasil review-nya di bawah.

Handling Oke

Dalam kesempatan ini, kami diberikan kesempatan sebanyak 3 lap untuk melewati obstacle yang ada.

Obstacle tersebut terdiri dari roundabout (trek lingkaran), concrete (jalur corcoran), gelombang, dan slalom area yang sudah dibasahi dengan air.

Pada trek pertama kami dipersilakan untuk mencoba manuver pada kecepatan 50-60 km/jam guna memutari area ini.

review mitsubishi xforce

Di sini area tersebut juga dibasahi dengan air untuk merasakan perbedaan antara penggunaan mode berkendara Normal dan Wet.

Dua putaran pertama menggunakan mode Normal, lalu 2 putaran selanjutnya memakai mode Wet.

Ketika memakai mode Normal, mobil terasa membuang ke arah luar dan beberapa kali sempat kehilangan grip.

Kemudian ketika memasuki mode Wet, mobil terasa memiliki handling yang jauh lebih baik dengan grip yang mudah dikendalikan.

Masahiro Tamura, Product Appeal Evaluation Department Mitsubishi Motors mengatakan mode Wet akan membuat kendaraan lebih mudah dikendalikan.

review mitsubishi xforce

Hal ini disebabkan oleh setting ECU yang membuat respon gas menjadi lambat. Traction control dan Active YAW Control juga aktif membantu handling SUV compact ini.

Saat kami pindahkan ke mode Wet, mobil benar-benar memberikan handling yang cukup baik.

Walaupun pedal gas diinjak dalam, ECU akan menahan tenaga yang dikeluarkan mesin agar tidak terlalu banyak.

Ketika mode kembali dipindah ke Normal, respon mesin kembali spontan.

Suspensi Stiff

Pada rintangan kedua dan ketiga, kami diminta untuk melewati jalan concrete dan gelombang untuk menguji karakter suspensi.

Hasil review kami mengatakan bahwa Mitsubishi XForce memiliki karakter suspensi yang cukup stiff atau kaku.

review mitsubishi xforce

Hal ini dapat dilihat dari bantingan yang kami rasakan ketika melewati jalan bergelombang maupun concrete di trek tersebut.

Rasanya tidak terlalu empuk, namun masih dalam tahap bisa diterima lantaran ukuran gelombang di area ini juga terbilang besar.

Kecepatan mobil saat melewati obstacle ini berkisar 50-65 km/jam yang artinya cukup kencang untuk melibas jalan.

Sebagai gambaran, kaki depan Mitsubishi XForce menggunakan MacPherson Strut yang bagian caster trail expansion sudah disempurnakan.

Lalu di bagian belakang menggunakan torsion beam dengan modifikasi berupa pembesaran dimensi silinder dari shockbreaker dan suspension bushing yang disempurnakan.

Efek dari improvement bushing shockbreaker diklaim mampu memberikan handling yang jauh lebih baik ketika bermanuver.

Sedangkan pembesaran dimensi silinder dari shockbreaker bertujuan meningkatkan kenyamanan saat berkendara.

Kami setuju jika mobil ini memiliki karakter suspensi stiff demi mengejar handling yang mumpuni.

Sasis Terasa Rigid

Pada obstacle terakhir kami dihadapkan dengan slalom area yang mengharuskan pengemudi melakukan manuver zig-zag pada kecepatan maksimum di 45 km/jam.

Ketika melakukan manuver zig-zag, setir seakan berkoordinasi baik dengan sasis untuk menggerakkan mobil.

Hal ini disebabkan bagian steering gear ratio juga turut disempurnakan oleh Mitsubishi agar feedback setir lebih mudah dikendalikan.

Mitsubishi XForce Indonesia

(Foto: MMKSI)

Mobil terasa cukup rigid ketika melakukan manuver dengan kecepatan sedang. 

Adanya air di area ini juga menjadi pembuktian Wet mode berfungsi dengan maksimal guna menunjang handling ketika sedang manuver.

Rifat Sungkar bahkan sempat mengatakan kepada kami bahwa XForce ini punya rigiditas yang sangat baik layaknya mobil balap.

Pada saat pengetesan berlangsung, setidaknya kami harus mencicipi area zig-zag ini selama 3 kali.

Review Akselerasi Mitsubishi XForce

Di obstacle terakhir kami dihadapkan dengan trek lurus yang ada di proving ground Bridgestone untuk mengetes performa mesin.

Sebelum melahap trek lurus, kami berhenti sesaat untuk mengatur tuas di transmisi di mode Ds dengan mode berkendara di Normal.

Mesin Mitsubishi XForce

(Foto: Mitsubishi)

Ketika bendera dikibarkan oleh marshal, pedal gas pun segera kami injak dalam-dalam untuk melakukan akselerasi.

Mobil berpenggerak roda depan yang menggunakan mesin dan transmisi serupa dengan Xpander ini terasa lebih mudah melesat.

Mungkin saja berkat dimensi lebih pendek dan bobot lebih ringan membuat akselerasinya lebih baik dari Xpander.

Untuk mencapai kecepatan 122 km/jam juga terasa cukup mudah.

Pada waktu pedal gas diinjak dalam, perpindahan gigi terasa seperti transmisi otomatis 8-percepatan dengan shifting yang cukup cepat.

Shifting yang dirasakan juga terasa halus dan mampu memompa adrenalin untuk melesatkan mobil ini di trek.

Kesimpulan Review Mitsubishi XForce

Ada 2 kesimpulan yang bisa kami ambil dari hasil review Mitsubishi XForce ini.

Poin pertama, mobil ini menurut kami memiliki handling yang cukup baik berkat karakter suspensi stiff dan sasis yang terasa rigid.

Artinya, SUV compact ini sangat cocok untuk diajak pecicilan saat berpetualang di daerah-daerah terpencil.

Terlebih Mitsubishi menanamkan 4 mode berkendara yang terdiri dari Normal, Wet, Gravel, dan Mud.

Mode Wet akan mampu menjaga stabilitas bermanuver ketika melewati jalan licin.

Lalu mode Mud juga bisa diandalkan untuk melahap jalur off-road dengan level sedang agar traksi tetap terjaga.

Sementara mode Gravel bisa digunakan ketika melewati jalan dengan kontur bebatuan.

Di atas kertas mobil ini memiliki bekal ‘pecicilan’ yang lengkap.

Sementara poin kedua, kami merasa jika mobil ini kurang cocok untuk digunakan bagi penumpang yang memiliki ekspektasi kenyamanan sangat tinggi.

Efek dari suspensi stiff dan sasis yang rigid tentunya harus mengorbankan kenyamanan berkendara.

Namun, semua hanyalah persepsi dan selera yang masing-masing memiliki penilaian berbeda ketika duduk di dalam mobil.

Sejujurnya, kami cukup terkejut dengan suspensi dan handling yang diberikan oleh Mitsubishi XForce ini.

Ketahui lebih dalam terkait spesifikasi Mitsubishi XForce.

Penulis: Rizen Panji
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 3,265

Coaching Clinic: Shorts Is The Future Vol. 2, Ngonten Video Review Bareng Air EV

Jakarta — Membuat konten video review mobil semakin mudah menjadi pokok bahasan kegiatan bertajuk “Coaching Clinic: Short Is The Future Vol. 2” yang diselenggarakan Carmudi, AutoFun, dan Mobil123.

Acara lanjutan dari kegiatan serupa yang diselenggarakan pada akhir Agustus lalu ini juga terlaksana atas dukungan penuh Wuling Motors di Kopi Bangsa, Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan, Kamis (21/9/2023).

(Foto: Carmudi)

Kegiatan berisi seminar, test drive Wuling Air EV, serta praktik pembuatan video untuk kemudian dikompetisikan.

Sebanyak 44 partisipan yang terdiri dari content creator dan mahasiswa tampak sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Kegiatan dimulai oleh pemaparan materi dari reviewer Carmudi, Fransiscus Rosano tentang seputar persiapan membuat konten video seperti pengenalan tools hingga jenis angle pengambilan gambar.

Para peserta yang didominasi para pemula atau content creator muda mengaku sangat terbantu atas materi yang disajikan.

“Acara ini seru banget, menarik banget karena kita bisa saling sharing bagaimana cara membuat konten yang beda-beda, bagaimana cara pengambilan angle (video) yang bagus,” ujar Adim.

(Foto: Carmudi)

Antusiasme tinggi juga terlihat saat sesi selanjutnya, yakni pembuatan video.

Sebelum membuat video, para partisipan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk test drive Wuling Air EV di sekitar area museum.

“Keren banget, selain mendapatkan informasi, ilmu, kita juga pastinya bisa test drive, gimana rasanya naik mobil Wuling Air EV,” kata Chinthia, salah satu partisipan yang berprofesi sebagai content creator.

(Foto: Carmudi)

Setelah itu mereka pun mencoba untuk membuat konten video tentang pengalaman mengendarai dan keunggulan mobil listrik tersebut.

Sebelum kegiatan berakhir, reviewer AutoFun Helmi M. Alfriandi dan Ahmad Karim menyampaikan materi seputar pasca-produksi video seperti membuat judul konten, waktu posting, trik menghindari copyright, dll.

Kompetisi Video Review Wuling Air EV

Sama seperti coaching clinic yang pertama, pada edisi kedua ini juga diadakan kompetisi video review dengan 2 kategori pemenang; Most Like by Public dan Jury Decision.

(Foto: Carmudi)

Adapun ketentuan kompetisi video review Coaching Clinic: Short Is The Future Vol. 2 adalah:

  • Bertema “Air EV drive for A Green Life”.
  • Video berdurasi maksimal 60 detik.
  • Review dilakukan di area Kopi Bangsa, Museum Satria Mandala.
  • Diunggah ke media sosial Instagram, TikTok, atau Short Youtube.
  • Mention @wulingmotorsid, @mobil123id, @carmudiid, dan @autofun.indonesia serta hastag #WulingAirev #CoachingClinicWuling #WulingXiCarAsia #ThisisMyEVWay.
  • Batas waktu posting video 21 September sampai 1 Oktober 2023 pukul 13:00 WIB.

Pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui akun media sosial Carmudi, Mobil123, dan AutoFun.

Penulis: Dimas Hadi

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 2,774

Review Hyundai Ioniq 6: Nggak Cocok Buat Penumpang!

Artikel review kali ini akan membahas impresi mengendarai mobil listrik Hyundai Ioniq 6 dari Jakarta ke Semarang, Jawa Tengah.

Sebelumnya kami mendapatkan kesempatan melakukan test drive review Hyundai Ioniq 6 lewat Electric Vehicle Media Drive Experience pada pekan lalu.

review hyundai ioniq 6

Di sini kami diberikan kesempatan untuk mengendarai Ioniq 5 dan Ioniq 6 dari Jakarta menuju ke Pulau Bali.

Pada perjalanan yang kami lakukan dari Senin (2/10/2023) hingga Jumat (6/10/2023), kami mendapat kesempatan mencicipi Ioniq 6 di hari pertama.

Seperti apa impresi berkendaranya?

Posisi Duduk Belakang Melelahkan!

Sebagai gambaran, perjalanan selama 5 hari ini kami mulai dari Hyundai SCBD, Jakarta Selatan.

Di dalam 1 mobil yang kami gunakan terdiri dari 4 jurnalis dari media yang berbeda-beda.

Rute di hari pertama diharuskan menuju Semarang yang berakhir di Hotel Padma Semarang, tapi sebelumnya mampir dulu di pabrik HMMI Cikarang, Jawa Barat.

review hyundai ioniq 6

Salah satu rekan kami pun ingin mencoba menyetir terlebih dahulu, sisanya segera duduk di belakang untuk mencoba menjadi penumpang.

Sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju pabrik HMMI Cikarang, ternyata kami menilai duduk di belakang adalah sebuah kesalahan.

Rasanya di luar ekspektasi kami yang membayangkan betapa nikmatnya duduk di belakang menjadi bos-bos yang disupiri.

Belum ada setengah perjalanan ke pabrik, bagian punggung dan pinggang sudah terasa sangat pegal sekali.

Apalagi jok baris kedua ini tak bisa diatur reclining-nya seperti Ioniq 5, ditambah bahan busanya menurut kami terasa lebih keras dari Ioniq 5.

Kami sudah mencoba berbagai posisi duduk agar membuat badan tidak terasa cepat pegal dan lelah. 

performa hyundai ioniq 6

Tapi apa daya, kami tak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan dan harus dengan pasrah menerima sedikit penderitaan ini.

Sebagai gambaran, postur tubuh tim Carmudi sekitar 172 cm dengan berat 79 kg. Ketika bagian bokong menempel pada ujung jok, kepala akan sedikit menempel plafon.

Desain Ioniq 6 yang bagian belakangnya menurun membuat ruang kepala penumpang belakang menjadi sempit.

Bagian bawah jok juga terbilang pendek dan tak mampu menyangga paha dengan sempurna.

Menurut kami bagian yang membuat pegal adalah sandaran punggung yang lekukannya dibuat agak dalam sehingga punggung terpaksa membungkuk.

review hyundai ioniq 6

Hal inilah yang menurut pengamatan kami menjadi penyebab rasa sakit di punggung dan pinggang cepat terasa.

Usai menjadi penumpang sekitar 2 jam lebih, akhirnya kami pun tiba di pabrik HMMI dan segera memutuskan untuk menjadi pengemudi.

Review Rasa Suspensi Hyundai Ioniq 6: Kaku!

Usai melakukan factory visit, kami meneruskan perjalanan via Tol Cipali, namun diharuskan singgah terlebih dulu di rest area KM130A.

Dari pabrik menuju rest area KM130A Cipali, giliran kami yang mengendarai mobil buatan Korea Selatan ini.

Rasanya sangat berbeda jauh ketika menjadi penumpang di belakang dan pengemudi yang bisa mengontrol segalanya dari depan.

Karakter suspensi dari mobil ini benar-benar stiff atau kaku, mirip beberapa mobil sport Eropa yang pernah kami cicip beberapa tahun lalu.

Interior Ioniq 6

Hyundai Ioniq 6 dengan mudah mampu diajak bermanuver, tapi harus menjadi catatan jika setirnya terasa cukup direct. Butuh penyesuaian sebelum melakukan manuver.

Setir baru dibelokkan sedikit, mobil sudah segera berbelok. Sehingga untuk bisa berbelok dengan halus bisa dilakukan dengan gerakan setir yang minim.

Pengaturan jok sudah memakai elektrik dan di bagian setir juga sudah disematkan beragam tombol untuk memudahkan pengemudi.

Tenaga Buas!

Tiba di rest area KM130A Cipali, kami diharuskan mengisi daya baterai di SPKLU Ultra Fast Charging 200 kW.

Dalam waktu 33 menit, baterai sudah terisi penuh 100% dari sebelumnya di angka 59% dengan biaya Rp90 ribuan saja. Lanjut gaspol lagi.

Sejak meninggalkan jejak di rest area ini, kami mencoba melakukan eksplorasi performa dari mobil ini.

performa hyundai ioniq 6

Hasilnya ternyata di luar dugaan kami. Mobil ini punya performa yang cukup buas, terutama di mode Sport.

Oh iya, Hyundai Ioniq 6 dibekali dengan mode berkendara yang terdiri dari Eco, Normal, dan Sport.

Setiap mode memberikan efek yang berbeda-beda, bahkan berpengaruh besar pada stir ketika dikendarai.

Di mode Eco, setir akan terasa sangat ringan dan memudahkan untuk berpindah jalur saat di tol.

Mode Normal, setirnya akan terasa lebih berat seakan mengikuti kebutuhan tenaga lebih besar yang dikeluarkan.

Pada mode Sport, setirnya terasa cukup berat dan jambakan tenaga yang dihasilkan langsung bisa dirasakan instan.

Interior Hyundai Ioniq 6

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Bahkan saat memindahkan dari mode Eco ke Normal dan dari Normal ke Sport lonjakan tenaganya benar-benar signifikan.

Kami merasa sedikit ‘terjambak’ ketika memindahkan dari mode Normal ke Sport. Respons motor listrik juga jauh lebih instan.

P x L x T4.855 mm x 1.880 mm x 1.495 mm
Wheelbase2.950 mm
Tipe Motor Permanent Magnet Synchronous (Depan dan Belakang)
Tenaga Maksimum239 kW / setara 320 hp
Torsi Maksimum605 Nm
Tipe BateraiLiquid cooled Lithium-ion
Kapasitas Baterai77,4 kWh
Tipe transmisi Single speed reduction gear
Waktu Pengecasan Standar 10—100 Persen
  • 11 jam 45 menit @ 7kW
  • 7 jam 20 menit @ 10,5 kW
Sistem Penggerak RodaAll Wheel Drive (AWD)
Estimasi Jarak Tempuh Maksimal519 km
Kecepatan Maksimum185 km/jam
Akselerasi 0—1005,1 detik
80—120 km3,3 detik
Ukuran Roda245/40 R20 lebar 8,5 inci

Mobil berpenggerak AWD ini di atas kertas mampu memuntahkan tenaga hingga 239 kW atau setara 320 hp pada mesin bensin.

Torsinya pun juga sangat besar, di angka 605 Nm yang dengan mudah memompa adrenalin pemiliknya dalam waktu singkat.

Kami sempat mencoba jika Ioniq 6 mampu dipacu hingga kecepatan maksimum di angka 192 km/jam ketika kendaraan di depan maupun belakang sangat jauh.

Hyundai Ioniq 6 Indonesia

(Foto: Carmudi/Mada Prastya)

Angka 192 km/jam ini dirasa sudah mentok, dan tidak mau menambah kecepatan lagi meskipun pedal gas diinjak dalam-dalam.

Menurut kami hal ini berkat adanya limiter demi memberikan keamanan bagi para pemilik agar tidak memacu kendaraannya terlalu kencang.

Setelahnya kami kembali berjalan konstan menggunakan mode Normal dan Eco lantaran di mode Sport cukup menguras kapasitas baterai.

Catatan performa ini tentunya melewati klaim brosur. Pada brosur dikatakan jika mobil ini memiliki kecepatan maksimum 185 km/jam.

Konsumsi Baterai Hyundai Ioniq 6

Usai melakukan perjalanan yang cukup membosankan membelah Tol Cipali, kami pun istirahat sejenak di rest area KM379.

Di sini kami melakukan regrouping dengan mobil lain sebelum mengakhiri perjalanan di Padma Semarang.

Dari rest area KM130A baterai penuh 100%, saat tiba di rest area KM379 terpantau baterai masih tersisa sekitar 33%.

(Foto: Carmudi)

Menurut klaim pabrikan, mobil ini bisa melaju hingga 519 km dari posisi baterai 100%.

Tapi ternyata realitanya ketika baterai di posisi 100%, MID memperkirakan jika jarak tempuh ke depan berkisar di 480-an km saja. Silakan menilai sendiri, ya.

Sekitar pukul 21:00 WIB, kami pun tiba di Hotel Padma Semarang untuk beristirahat sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, Jawa Timur dan berakhir di Bali.

Pada hari berikutnya, kami memutuskan untuk memilih Hyundai Ioniq 5 lantaran terasa jauh lebih nyaman saat duduk di depan maupun belakang.

Kesimpulan Review Hyundai Ioniq 6

Usai menjadi penumpang dan mengendarai Hyundai Ioniq 6 dari SCBD Jakarta menuju Semarang dengan jarak 460 km akhirnya bisa kami tarik kesimpulan review.

Mobil yang dijual dengan harga Rp1,197 miliar OTR Jakarta ini rasanya memang lebih cocok dikemudikan sendiri.

Kesenangan berkendara yang dihasilkan bisa dirasakan secara langsung di balik setir, terutama Anda yang gemar melakukan perjalanan jauh.

Hyundai dan Kia

Saat dihadapkan dengan trek lurus dengan kontur jalan bergelombang seperti Tol Cipali, mobil ini membuat badan terasa lebih cepat pegal dan lelah.

Berbeda jauh dengan Ioniq 5 yang mampu memberikan kenyamanan lebih baik dari segi suspensi.

Ioniq 6 sejatinya memang dirancang untuk bisa mumpuni melaju di atas jalan aspal, bukan jalan bergelombang.

Performa buas, setir yang terasa direct, dan suspensi yang kaku secara tidak langsung sudah merefleksikan hal tersebut.

Penulis: Rizen Panji
Editor: Dimas

Download Aplikasi Carmudi untuk Dapatkan Deretan Mobil Baru & Bekas Terbaik serta Informasi Otomotif Terkini! 

Download Carmudi di Google Play Store Download Carmudi di App Store

Post Views: 4,080